SIDEBAR

Geliat Dunia Sastra Kampus Putih

0 comments
Dec 14 2017
Post's featued image.

… selalu ada sekelompok orang yang menepi dari hiruk-pikuk untuk menempuh apa yang disebut Robert Frost sebagai jalan sunyi yang jarang dilalui orang, untuk merenungkan hidup dan kehidupan, lalu menuliskannya dalam bentuk susunan kata yang disebut puisi”

 

Pada tanggal 15 November 2015, koran Merapi Pembaruan memuat sebuah artikel “Sastra Kampus Putih: Ladang Subur Tanpa Petani”, yang ditulis Aly D Musyrifa. Penyair sekaligus mantan ketua Teater Eska tahun 1988-1990 tersebut bercerita tentang geliat sastra dan kesenian yang berkembang di Yogyakarta, khususnya di UIN Sunan Kalijaga.

Sejarah itu bermula pada tahun 1970. Diawali dengan berdirinya sebuah kelompok “Limited Edition” di mana Mukti Ali sebagai tokoh sentralnya. Kelompok ini berdiri dengan tujuan menyebar benih-benih kesenian di wilayah Yogyakarta. Kegiatan-kegiatan baru seperti pembacaan puisi, diskusi sastra dan pementasan teater pun bermunculan. Hal tersebut yang juga menjembatani adanya penghargaan terhadap kampus UIN Sunan Kalijaga sebagai “Kampus Seni Budaya” pada tahun 1973. Tak lama kemudian penganugerahan tersebut diikuti oleh berdirinya Lembaga Sastra Budaya (LSB), meskipun tidak berkontribusi dengan baik.

Di tahun yang sama, berdirilah Persada Studi Klub (PSK) yang dipandegani oleh Umbu Landu Paranggi, dengan tujuan mewadahi anak muda kreatif di wilayah kota Yogyakarta. Salah satu dari mereka adalah Faisal Ismail, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang mendapat anugerah sebagai “Penyair Terbaik Angkatan Pertama”. Sementara itu terdapat juga LPM Arena yang berperan menopang perkembangan sastra, bersaing dengan Horison di Jakarta dan Basis di Yogyakarta, dua media cetak besar Indonesia.

Pada tahun 1976, sebagian dari para penyair Arena membentuk “Kelompok Enam” yang menerbitkan antologi puisi “Ting Tong“. Di balik peran Arena yang begitu signifikan, ada dua orang yang harus disebut namanya, yakni Kelik M Nugroho dan Syamsuri Ali Hankdriant yang juga mempelopori berdirinya sastra Syauqi tahun 1982. Berpaling dari itu, pada tahun 1980, berdirilah Teater Eska yang menegaskan kembali intensitas kampus seni budaya, juga sebagai wadah mahasiswa yang berminat menggeluti drama, sastra, musik, dan tari.

Tidak cukup sampai disitu saja, pada tahun 1987 juga berdiri Studi Apresiasi Sastra (SAS) yang beranggotakan anak muda kreatif yang suka dengan dunia tulis menulis, dan diketuai oleh Syubanuddin Alwi. Dari SAS lahir juga para penyair yang dikenal di kancah Nasional.  Kemudian karena aspirasi masyarakat yang baik terhadap sastra di Yogyakarta, SAS dan Teater Eska  bertransformasi menjadi “Pengadilan Puisi Yogyakarta.”

Dari situ dapat dilihat bahwa UIN Sunan Kalijaga sebagai kampus Islam tertua di Indonesia tidak hanya meluluskan mahasiswa dengan bekal di bidang akademik dan agama saja, tetapi juga sastra. Sebenarnya hal tersebut merupakan kesempatan para pengambil kebijakan, untuk mengeksplor adanya potensi tersebut, namun sampai saat ini pihak kampus masih belum intens dalam memperhatikan potensi mahasiswa dalam dunia sastra, belum lagi dengan penyempitan ruang-ruang berekspresi mahasiswa saat ini. Hal tersebut mengakibatkan adanya penurunan produktivitas sastra yang ada di kampus.[]

_____

Peresensi: Luhi

Judul: Sastra Kampus Putih: Ladang Subur Tanpa Petani // Penulis: Aly D. Musyrifa // Penerbit: Merapi (Koran Cetak) // Terbit: Minggu, 15 November 2015

Submit a Comment

X