SIDEBAR

Jalan Raya, dan Kisah Lain-lainya

0 comments
Jan 21 2018

Di jalan raya, perilaku dan tabiat manusia cenderung muncul apa adanya.”

 

Rahman berjalan kaki dari Tugu Yogya hingga Alun-alun Utara dengan bekal sebilah pena dan secarik kertas—era sekarang, ia cukup membawa telepon genggam, duduk di bawah pohon beringin alun-alun dan menulis kejadian yang baru saja dilalui. Setelah itu, ia bergegas menyusuri trotoar menuju halte transjogja. Namun karena waktu masih pagi, ia masuk ke Keraton dan lanjut ke Taman Sari. Esoknya ia menyalin peristiwa itu dengan sedikit dramatis, dan diberi judul Peristiwa di Jalan Raya. Menurutnya judul tersebut tidak kekinian, lalu ia ubah menjadi Jalan Raya, dan Kisah Lain-lainnya, mungkin saja waktu itu ia akan memilih judul Celoteh Jalanan.  Namun karena ia tahu judul terkahir adalah kumpulan esai karangan M. Faizi yang diterbitkan oleh Basabasi pada bulan Maret 2017, maka ia memilih judul yang kedua.

Jalan raya merupakan tempat yang sangat beragam akan peristiwa. Dari cerita lampu merah, pungli, begal, pejalan kaki, coretan dinding, hingga penggusuran lahan bertaburan di jalan raya. Dan jalan raya tidak melulu tentang kemacetan, hiruk pikuk kendaraan, dan pusat polusi (atau juga polisi) berada. Seperti paparan M. Faizi dalam esainya, di jalan raya, perilaku dan tabiat manusia cenderung muncul apa adanya (hal. 31).

Kumpulan esai Celoteh Jalanan terangkum dalam beberapa aspek pembahasan: (1) Religiusitas, di sini penulis mengartikan religiusitas sebagai akhlak pengendara, kejujuran penjaga SPBU, dan pembeli di warung  samping jalan raya saat bulan suci Ramadhan. (2) Hak Sosial, seperti kelakuan para pengemudi bus atau truk yang ugal-ugalan di jalan raya hingga meresahkan para pengendara yang lain, dicatat sebagai merampas hak pengguna jalan. Dan (3) Pengetahuan tentang taat peraturan merupakan perilaku untuk menjaga diri sendiri dari bahaya, diulas dengan bingkai peristiwa yang menarik.

Konten-konten inti dalam esai-esai Celoteh Jalanan diharapkan menjadi bahan refleksi pembaca—penulis sebutkan dalam pengantar buku tersebut. Kemasan beberapa esai seperti cerita pendek: ada alur, tokoh, dan tentu konflik yang terjadi, dan bahkan beberapa juga berbentuk puisi. Perenungan penulis akan pengalaman di jalan raya tidak melulu rumit, bahkan hal lumrah seperti kebiasaan orang-orang yang mengatakan on the way (OTW) yang nyatanya masih belum berangkat beliau kisahkan dalam tulisan Bilangnya OTW tapi Masih di Rumah. Penulis menghadirkan penutur yang meminta pendengar (pembaca) untuk belajar dengan pengalaman yang di dapatkan dari buku tersebut atau peristiwa yang pernah dirasakan langsung di jalanan—dengan peristiwa yang umum terjadi. Menurut M. Faizi “Sebab di meja seminar, seorang narasumber dapat kelihatan pintar padahal makalahnya hasil sontekan ….namun di jalan raya semua tindakan akan dilakukan dan ditampakkan apa adanya (hal.6)”

Oleh sebab itu Celoteh Jalanan mencoba merangkum peristiwa yang terjadi di jalan raya, didaur-ulang dari pengalaman penulis, menjadi sebuah tulisan ringan yang dikemas dalam cerita tanpa nada marah dan menggurui. Bahkan penulis seakan ingin bertanya: Ada apa di jalan raya? Bagaimana jalan raya mendapat perbaikan secara rata, Kemudian menjadi titik perubahan atas “sistem transportasi” yang juga mempengaruhi “pola pikir masyarakat” menuju lebih baik?. Dan sebab pertanyaan itu pula Rahman ingin menulis sekelumit pengalaman saat berjalan kaki dan naik bus kota—sebuah tulisan kontemplatif. Namun di kemudian hari saat ia terbangun sehabis menulis semalaman, tulisannya hilang dari komputernya, tersisa judul dan ingatan peristiwa saat ia melihat perempuan di pusat pembelanjaan Malioboro dan melihatnya berjalan kaki.

 

_____

Presensi: Rahman Nawawi

Judul: Celoteh Jalanan // Penulis: M. Faizi // Penerbit: Basabasi // Cetakan: I, Maret 2017 // Tebal: 180 halaman; 14 x 20 cm

Submit a Comment

X