SIDEBAR

Ketika Temanku Datang

0 comments
Jan 14 2018

Beberapa kejadian dari masa lalu tiba-tiba datang ke pikiranku secara tiba-tiba dan begitu jelasnya. Aku menjadi malu dan hampir menangis

 

Selama tiga hari, tanggal 5 sampai 7 Januari 2018 di Jogja Contemporary ada pentas My Friend has Come, karya Toshiro Suzue yang diterjemahkan Meyda Bestari dan disutradarai Basundara Murba Angana. Pertunjukan ini termasuk rangkaian tugas akhir keaktoran Rangga Dwi Apriadunnur di jurusan Studi Teater ISI Yogyakarta.

My Friend has Come bercerita pertemuan tak terduga di suatu hari saat musim panas antara dua orang teman dekat, yakni Aku dan Temanku. Dengan latar Jepang, peristiwa berlangsung di sebuah teras rumah tokoh Aku  yang diperankan Rangga Dwi Apriadinnur.

Hari itu di liburan musim panasnya Aku duduk di teras, mendengar suara tengeret, mengamati debu, semut, dan mendengarkan musik dari walkmannya. Ia berbicara hal-hal remeh, dan hal itu menggema di ruang hampa di dalam dirinya. Ia seperti seseorang yang penuh penyesalan, kehilangan dan kesepian. Intinya ia seperti menderita. Dan ia tampak makin menderita ketika mendengar gelegak bunyi air. Bunyi yang mungkin bersumber dari kepalanya sendiri.

Berselang sesaat setelahnya Temanku, yang diperankan Khoirul Anwar, datang pada Aku mengunakan sepeda berwarna merah yang biasa ia gunakan. Mereka pun tenggelam dalam pertemuan yang tak terelakkan itu. Pertemuan yang datang terlalu cepat atau yang sebenarnya tidak diinginkan atau justru pertemuan yang diinginkan. Tetapi, mereka larut dalam perbincangan dan dengan laku yang sedikit canggung. Mereka membicarakan masa lalu dengan segelas teh barley dingin, dan mengitari teras beralaskan anyaman tatami.

Suasana canggung penuh kebosanan sangat terasa pada saat itu. Kecanggungan itu sepertinya berasal dari emosi yang ingin meledak namun ditahan-tahan. Suasana baru mencair ketika mereka berlatih-tarung kendo, olahraga anggar tradisional Jepang.

Kebanyakan adegan di panggung saat itu, seperti menerangkan kejiadian-kejadian masa lalu yang pernah mereka lakukan, dan mereka mengulanginya dengan perasaan yang penuh akan kerinduan sekaligus penyesalan. Mungkin karena tidak adanya kesempatan bagi mereka untuk menyelesaikannya pada saat mereka masih bersama-sama. “Beberapa kejadian dari masa lalu tiba-tiba datang ke pikiranku secara tiba-tiba dan begitu jelasnya. Aku menjadi malu dan hampir menangis. …,” kata Aku.

Di sini saya menangkap adanya masalah personal yang getir dialami oleh tokoh Aku dan Temanku. Pecakapan-percakapan mereka, yang kadang bergerak di luar sebab akibat atau terputus-putus, mengarah ke sana. Misalanya dialog Temanku: “Belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi sangat membantuku. Semua orang menatap masalah yang sama, tujuan yang sama, setiap orang menjadi sendirian. Semuanya mirip. …”

Sebuah laporan di Vice menyebutkan bahwa 12 persen lelaki di atas usia 18 tahun tidak memiliki teman akrab untuk berbagi cerita masalah kehidupan yang serius. Tidak memiliki teman akrab untuk curhat masalah kehidupan yang serius, menurut hasil penelitian Organisasi Kesehatan Dunia sebagaimana dikutip Vice, dapat memengaruhi kesehatan lelaki dalam jangka panjang, berisiko menyebabkan depresi dan bahkan bunuh diri. Dan itu tampaknya yang dialami Temanku.

Temanku meninggal empat bulan sebelum pertemuan itu. Ia melompat ke laut, dan ia mengingat betul bagaimana gelegak air membentuk buih-buih yang naik ke permukaan. Lalu, mengapa ia datang kepada Aku? “Untuk melihatmu. Untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku dalam perjalanan,” kata Temanku. Atau dipercakapan lain ia bilang: “Aku ingin kamu mengingatku. Di lain hari aku lahir dan tanpa melakukan sesuatu aku mati. […] Aku pernah di sini. Aku ingin diingat olehmu.”

Di Jepang ada istilah ‘roh yang hidup’, dan hal seperti itu banyak muncul dalam kesusastraan Jepang. Tetapi, ‘roh yang hidup’ ini muncul dari kegelapan alam bawah sadar manusia, kemudian berkelana untuk melakukan sesuatu demi menuntaskan hasrat tak sadarnya. Sementara dalam cerita My Friend has Come, Temanku sudah meninggal dan ia datang menemui Aku. Ia tampak nyata dan berdaging. Atau mungkin Temanku datang seperti bunyi gelegak air yang bersumber di dalam kepala Aku.

Dan memang seperti bunyi gelegak air yang perlahan menghilang, pada akhirnya Temanku pergi setelah mereka foto berdua, meninggalkan Aku yang kemudian mengulang adegan-adegan masalalu mereka sendirian. Ia penuh penderitaan, dan di akhir emosi itu sudah tidak bisa ditahan.

Saya yang menonton pertunjukan ini pada hari terakhir merasa naskah bagus karya Toshiro Suzue tersebut disuguhkan nyaris tanpa cela. Detail-detail kecil yang dimainkan membuat pertunjukan ini mengerikan. Satu sama lain boleh terhubung atau lepas, tetapi di sela-selanya seperti ada yang akan meledak. Catatannya mungkin di pengucapan dialog. Atau mungkin terjemahan naskahnya. Tabik. []

 

___

Pewarta: M. Farid & Habib

Judul: My Friend has Come // Sutradara: Basundara Murba Angana // Naskah: Toshiro Suzue // Penerjemah: Meyda Bestari // Aktor: Rangga Dwi Apriadinnur dan Khoirul Anwar // Tanggal: Malam ketiga, 07 Januari 2018 // Tempat: Jogja Contemporary // Sumber foto: Nurul Fatimah (salah satu penonton)

Submit a Comment

X