SIDEBAR

Medulla Sinculasis: Kritis di Tengah Kemerosotan Budaya

0 comments
Dec 22 2017
Post's featued image.

Tubuhmu terus melemah, sementara ia tumbuh semakin menguat. Ideologi kontra ideologi, jelas tak efektif. Ia hanya melahirkan semacam benturan-benturan, dengan resiko yang lebih besar pada pihak yang tersubordinasi.” Hal—67.

Novel Medulla Sinculasis; Suatu Hari di Bulan Desember diakui penulis sebagai ketidakpuasan atas naskahnya sendiri dalam pertunjukan teater berjudul Selarian. Selarian memuat cerita besar tentang adat kawin lari atau merarik di Lombok.  Di Medulla sinculasis, cerita itu menjadi begitu berkembang-bercabang pada berbagai persoalan sosial, terutama yang terjadi di Lombok.

Cerita bermula dari rasa janggal Nuruda terhadap lembaga donor tempat ia bekerja. Baginya, kepragmatisan dan pola hidup hedonistik di lembaga itu tidak sesuai dengan visi misi kemanusiaannya. Hal itu disadari selepas mengikuti lokakarya di Oslo, Norwergia. Ia keluar dan tidak peduli kehilangan keberuntungan di bawah lembaga buntung itu.

Sewaktu mengikuti lokakarya itu pula, ia menemukan sebuah lukisan berjudul Medulla sinculasis bergambar lelaki bongkok tersenyum dengan kemaluan menjuntai, mengantarkan Nuruda pada dunia baru yang dihadapinya. Persoalan demi persoalan sosial masyarakat muncul secara mengakar dan tumbuh menjulang. Kemudian persoalan itulah yang menjadi bumbu dominan dalam perjalanan seorang aktivis kemanusiaan itu.

Selain itu, tabiat Nuruda sebagai bohemian mengutuhkan Medulla sinculasis dalam melakukan kritik sosial. Bahkan penulis tidak sanggup untuk mengendapkan keresahan-keresahannya terhadap cara pandang yang pragmatis. Sangat mungkin sebagai penegas keberpihakan penulis pada tokoh Medulla sinculasis dan sosok lain yang banyak disinggung dalam cerita.

Secara umum, tidak ada persoalan yang diunggulkan oleh penulis. Semua begitu kontras dalam payung utuh kebobrokan suatu budaya; Hitam-putih Ornop (organisasi non pemerintahan) atau lazimnya LSM yang menjamur, tumbuhnya generasi Pekerja Seks Komersial, kepragmatisan agama, kritik atas politik daerah, budaya feodal, dan rezim orde baru, bahkan sentilan moral yang tak sanggup penulis bendung dalam percakapan.

Mengkhususkan Lombok merupakan kesan tersendiri, mengingat ia banyak dikenal sebagai destinasi wisata alam yang unggul. Barangkali dengan membaca Medulla sinculasis, hatimu akan lebih terenggut, alih-alih oleh eloknya matahari terbit dan tenggelam di Gili Trawangan, melainkan bayang-bayang dibalik pesonanya yang kau telanjangi.

Bagian terakhir Medulla Sinculasis barangkali akan mengganjalkan sedikit banyak kecewa di benak pembaca yang berharap ada keajaiban yang mampu menyembuhkan segalanya, dan mungkin sebagaimana kekecewaan yang banyak dialami tokoh dalam cerita. Kata ‘selesai’ menjadi keputusan penulis untuk tidak membuat novel ini romantis atau berakhir bahagia. Karena memang penulis tidak meniatkan diri untuk menulis novel telenovela, meminjam ungkapan Linda Christanty dalam wawancaranya bersama Indoprogress.

 

_____

Peresensi: Neneng Hanifah Maryam

Judul: Medulla Sinculasis; Suatu Hari Di Bulan Desember // Penulis: Paox Iben Mudhaffar // Kata Pengantar: DR. George J. Aditjondro // Penerbit: Institut Rumah Arus (IRuS) // Cetakan: I, Januari 2011 // Tebal: 324 halaman; 110 x 135 cm // ISBN: 979-1698-045-94-7

Submit a Comment

X