SIDEBAR

Membongkar Silsilah Penulis Gagal

0 comments
Apr 07 2019
Post's featued image.

Pada 1990-an, jika ada kelompok seni manggung dan tidak ada yang mengulas pertunjukannya di koran, sang sutradara marah besar kepada kawan-kawannya yang bisa menulis. Ia merasa garapannya tidak diapresiasi dan tidak dihargai. Tapi kini, sudah hampir dua dekade, sutradara akan marah besar ketika pertunjukannya dikritisi dan diulas di koran. Kritik dianggap sebagai pembongkaran aib. Dan penulisnya akan dibenci seumur hidup.

 

 

MENJADI  penulis gagal saja, tidaklah gampang. Ia mesti menempuh serangkaian cara yang dianggap jitu dan usaha keras tak kenal hujan badai. Mulai dari mempelajari PUEBI hingga membaca buku teori menulis yang baik dan benar. Juga buku-buku lain yang mendukung minat keilmuannya. Ia harus bertempur dengan diri sendiri, bersusah payah meyakinkan diri sendiri, mengorbankan waktu dan materi. Sampai kemudian, ia harus memutuskan berhenti total tidak menulis lagi. Karena ternyata, menulis tidak semudah membalikkan telapak kaki gajah. Seluruh upaya sepanjang hidup itu, pada akhirnya, diserahkan sepenuhnya kepada frustrasi dan halusinasi. Ia bakar seluruh koleksi buku pribadi dan karya yang pernah dituliskan. Selesai.

Lalu, bagaimana dengan kisah Stephanie Meyer—penulis trilogi Twilight, yang ditolak 15 penerbit sebelum akhirnya diterima Writers House dan meledak di pasaran? JK Rowling—penulis novel Harry Potter, yang ditampik 12 penerbit kondang termasuk Penguin dan HarperCollins? Pengarang novel klasik Gone With the Wind, Margaret Mitchell, ditolak penerbit sampai 38 kali? Dan Richard Bach—penulis fiksi Jonathan Livingstone Seagull, yang memegang rekor ditolak penerbit sampai 140 kali? Apakah mereka menyerah dan menghapus seluruh riwayat kepenulisannya?

Ketika masih berseragam putih abu-abu—saat mesin tik manual jadi alat kerja utama, saya tidak punya teman penulis seusia. Hampir semua penulis, seniman, dan sastrawan yang saya kenal hampir seusia orangtua saya. Setiap Rabu—hasil meminjam mesin tik tata usaha sekolah, saya menumpuk tulisan di meja redaktur, satu-satunya koran yang ada di wilayah Cirebon dan hanya terbit seminggu sekali. Lalu, saya cek kembali di hari Sabtu, kalau-kalau tulisan saya terpampang di halaman budaya atau opini. Dan saya bangga bukan kepalang ketika nama saya tertera di situ. Saya bisa bersaing dengan para penulis hebat di Jawa Barat. Honornya cuma enam ribu rupiah, tapi sebab redaktur terpercaya dan para penulis keren itulah saya merasa berharga dan percaya diri.

Atau, setiap Sabtu malam, saya sering nongkrong di kantor redaksi. Menunggu jam penayangan film midnight di bioskop yang memberi saya tiket gratis. Tak jarang pula, waktu jeda itu diisi obrolan bersama para senior. Menimba banyak ilmu dan belajar dialektika. Sebelum akhirnya, saya berjalan kaki menuju bioskop—atau naik becak jika ada uang lebih. Seusai menonton, saya lanjut menuliskan resensinya di kantor redaksi menggunakan salah satu mesin tik wartawan. Sampai pagi. Saya tumpuk hasil kerja kemudian balik ke rumah yang jaraknya tidak kurang dari 13 kilometer. Hobi langka saat itu yang, sesekali, membuat saya tidak meminta uang jajan kepada orangtua.

Kenapa saya menulis? Kakak sayalah pemicunya. Dia bisa menulis karena ikut diklat jurnalistik. Tulisannya hampir setiap minggu muncul di koran. Saya yang merasa lebih pintar darinya, merasa panas hati lalu mengajukan “proposal” kepada orangtua agar bisa ikut diklat jurnalistik juga. Alhasil, setelah tiga bulan pelatihan dan lima bulan magang, saya sampai bisa polemik di koran dengan kakak sendiri. Saya juga jadi satu-satunya siswa yang bisa menulis di sekolah. Sampai-sampai, ketika saya memenangkan lomba menulis tingkat pelajar, guru bahasa Indonesia saya memberikan ucapan selamat di balik pintu kelas sambil meminta maaf karena dirinya tidak bisa mengajari saya menulis.

Saya tidak ambil pusing dengan semua itu. Keinginan bisa menulis tumbuh dari dalam diri saya sendiri. Tidak disuruh apalagi dipaksa oleh siapapun. Tidak juga bergantung kepada para pemberi semangat. Bisa menulis—yang di kemudian hari saya lebih konsen membahas tema-tema sastra dan kebudayaan—adalah akar yang membuat saya menemukan martabat dan keyakinan hidup. Kapanpun dan di manapun, saya merasa gagah dan tidak bodoh. Itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa masa muda saya tidak kehilangan orientasi. Tidak cuma bermodal urakan dan miskin attitude seperti Dilan.

 

Mental Milenial dan Motivasi Busuk 

Berpuluh tahun kemudian, saya mendapati kenyataan lain di kota ini. Media massa bertumbuhan tak terbendung. Hampir setiap hari, tulisan-tulisan (artikel, esai, puisi, cerpen) menyodorkan beragam tema yang  dapat diakses lewat banyak cara. Hanya saja, perbedaan mencolok hari ini, tidak banyak pekerja seni menghargai tulisan. Pada 1990-an, jika ada kelompok seni manggung dan tidak ada yang mengulas pertunjukannya di koran, sang sutradara marah besar kepada kawan-kawannya yang bisa menulis. Ia merasa garapannya tidak diapresiasi dan tidak dihargai. Tapi kini, sudah hampir dua dekade, sutradara akan marah besar ketika pertunjukannya dikritisi dan diulas di koran. Kritik dianggap sebagai pembongkaran aib. Dan penulisnya akan dibenci seumur hidup.

Ini fenomena aneh dan menakjubkan. Penistaan terhadap intelektualitas, sikap ilmiah, dan kebebasan berpikir seolah disepakati dan menjadi tradisi kolektif. Akhirnya, banyak penulis enggan mengulas pertunjukan. Entah karena stigma di atas, atau karena memang pertunjukannya tidak cukup layak untuk diapresiasi. Situasi ini menjelaskan teramat gamblang bahwa sesuatu yang diandaikan sebagai kerja kreatif itu berlangsung tanpa pijakan nalar, tanpa rujukan keilmuan, tanpa sikap ilmiah yang menjadi dasar bagi pertanggungjawaban kerja kreatifnya. Sampai di sini, apakah pilihan menjadi penulis dan tinggal di kota yang masyarakatnya tidak menghargai kerja intelektual akan disudahi?

Ketika mayoritas publik, sadar atau tidak, berlomba meneguhkan situasi dan mental milenial, sesungguhnya mereka sedang membangun rumah-rumah pasir. Merancang konstruksi yang rapuh pancang pondasinya. Membiarkan sikap dan isi otak generasi hari ini disetir konten media sosial dan dipenuhi beragam produk teknologi. Orangtua, guru, dan cerdik pandai, tidak lagi menjadi figur. Galau setiap saat karena jadi bucin (budak cinta). Tawuran setiap akhir pekan di sepanjang  jalan utama. File pdf, e-book, dan blog, dijadikan rujukan penting para pelajar dan mahasiswa setiap membuat makalah. Mabar (main bareng) game-game terkini setiap malam di tempat tongkrongan.

Keriuhan ini dicermati oleh para pengamat psikologi massa yang pandai membaca peluang pasar. Maka, lahirlah buku-buku motivasi yang menawarkan sedikit solusi untuk berjuta masalah. Tak ketinggalan, buku-buku trik pintar menulis dalam waktu satu jam dan kiat menjadi penulis best seller memenuhi rak-rak toko buku di setiap pelosok. Atau, buku berisikan quote-quote yang memainkan logika sederhana seolah sedang berfilsafat dan penuh makna padahal basi. Semuanya buku instan dan simplifikatif yang justru semakin mempercepat pembusukan mental calon pembaca generasi  milenial.

 

Menulis: Jalan Hidup?

Hingga kemudian, aroma pembusukan mental ini sampai juga ke dalam komunitas sastra yang saya kelola. Satu-persatu—anggota yang bertitel sarjana itu—berguguran. Alasan paling dominan karena tidak sanggup mengikuti disiplin komunitas yang mensyaratkan baca buku, diskusi, dan menulis secara simultan. Orang-orang yang gugur itu mungkin mengira, komunitas sastra adalah sejenis forum sosialita. Tempat bergosip para pendamba kasih sayang dan ruang pamer pikiran-pikiran palsu. Inikah yang dimaksud penulis gagal? Menulis saja belum tapi sudah menyerah? Jika menulis adalah proses penempuhan menuju jalan spiritual yang dituntun oleh hidayah, benarkah menjadi penulis sama persis dengan proses kenabian?

Tapi saya curiga, jangan-jangan, penulis gagal itu saya sendiri. Saya tidak perlu jauh-jauh mencari kambing hitam atau menyusun setumpuk alasan agar tetap diakui sebagai penulis. Karena, faktanya, berpuluh tahun menulis pun tetap saja tidak mampu membuat karya masterpiece atau best seller seperti Tere Liye, Fiersa Besari, Boy Chandra, atau Pidi Baiq. Apakah saya harus gantung “sarung tinju” lalu khusyuk memakmurkan tajug milik orangtua?

Tapi, di antara sekian alasan sok idealis dan kicauan bombas itu, satu hal saja yang membuat saya tidak bisa meninggalkan dunia menulis: almarhumah ibu. Saking besarnya dukungan kepada anak yang hendak mengikuti lomba menulis, ibu saya sampai mencarikan pinjaman mesin tik ke tetangga jauh. Ketika pulang, kepala ibu bagian belakang sudah dibebat perban karena bocor akibat terjengkang dari boncengan ojek. Mesin tik didapat tapi samasekali tidak bisa digunakan karena sudah benar-benar tua. Ibu tidak berhenti. Dicarinya lagi pinjaman mesin tik yang normal. Sampai akhirnya, saya juara lomba menulis itu. Dan seluruh hadiah lomba saya serahkan kepada ibu.

_____

Penulis: Edeng Syamsul Ma’arif

Judul: Membongkar Penulis Gagal // Penulis: Edeng Syamsul Ma’arif // Penerbit: Radar Cirebon (Koran Cetak) // Terbit: Sabtu, 16 Maret 2019

 

 

Submit a Comment

X