SIDEBAR

Menunggang Kapai-Kapai, Kupu-Kupu Melintasi Ruang Kuliah

0 comments
Dec 11 2017

Arifin C. Noer selalu mengaktualisasi zamannya. Jadi ketika membaca atau membawakan naskah Arifin, kami perlu mengaktualisasi zaman kami sendiri.”

 

Ada yang tidak saya bayangkan di pentas Kupu-Kupu. Saya tidak menemukan Abu dan tokoh lainnya dari Kapai-Kapai, tetapi saya justru melihat tujuh mahasiswa dan sekian masalah yang melumuri keseharian mereka. Kapai-Kapai yang telah berubah menjadi Kupu-Kupu, meskipun tidak sepenuhnya lenyap, betul-betul lebur dalam rupa kehidupan mahasiswa yang sangat dekat dengan saya dan penonton sekalian. Dan alih-alih menikmati dialog berat ala naskah Arifin, yang memantul dari paggung adalah curhatan mahasiswa soal biaya kuliah, pasangan, masa depan, dan sebagainya.

Curhatan itu muncul sejak awal pertunjukan. Tujuh aktor setelah melintasi panggung dari sisi kanan-kiri sambil menggotong kursi, masuk kembali ke panggung dan menyebar di beberapa titik. Kursi lipat yang biasa dipakai di ruang kuliah, dibaringkan di lantai panggung. Sepintas panggung berbentuk seperti ruang kelas di mana mahasiswa berhadapan dengan laptop dan sedang mengisi data diri pendaftaran kuliah. Di sisi kiri luar panggung, satu perempuan duduk di kursi dan mengikat rambut dan memasang kaca mata.

Enam mahasiswa di ruangan itu mulai bicara tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus mereka bayar. Secara bergantian, setiap mahasiswa menyampaikan masalahnya. Wajah bopeng perguruan tinggi mencuat dari cerita-cerita mereka. Seorang mahasiswa Filsafat, yang entah ketika lulus nanti akan jadi apa, bercerita dirinya dibebani bayaran kuliah yang menurutnya tidak sebanding dengan jaminan masa depan yang menantinya. Seorang yang lain mengatakan ia mendapat UKT 5 dari yang seharusnya membayar UKT 4. Kemudian ada cerita satu mahasiswa yang berjuang di jalur bidik misi, lalu mahasiswa yang karena tuntutan orang tua memilih jurusan yang bukan keinginannya.

Kemudian dengan melenggang anggun, aktor perempuan yang duduk di sisi kiri panggung, berjalan ke tengah-tengah mahasiswa itu. Ia seperti menebar obat mujarab ketika berkata bahwa selain IPK bagus, yang penting adalah soft skill. Mahasiswa harus memiliki soft skill; meliputi  komunikasi yang baik, kemampuan menyerap informasi, leadership, kerjasama tim, problem solving, etika kerja, keinginan belajar yang kuat dan keterampilan lainnya yang intinya bisa menunjang mahasiswa ketika terjun di dunia kerja dan bertarung untuk masa depannya.

Begitulah perempuan yang memerankan dirinya sebagai dosen atau mungkin pegawai kampus kalau bukan motivator, menyampaikan pesan-pesan penting zaman ini. Sesekali, saya merasakan, ia tampak seperti jelmaan tokoh Emak dari Kapai-Kapai yang sudah beralih wujud dalam rupa kekiniannya.

Sehabis para mahasiswa itu bercerita soal biaya kuliah, komposisi menyempit ke sudut kanan belakang panggung. Sebuah ruangan kelas yang menghadap penonton terpacak di sudut. Kemudian lampu sorot menembak kiri panggung bagian depan. Mereka satu persatu berjalan bergantian ke bawah sorot lampu dan bercerita lagi. Hingga akhirnya pada suatu detik yang hening, mereka membentuk barisan dan terdengar kumandang, Kami akan menuju ujung dunia. Tempat di mana cermin tipu daya berada. Bahagia, bahagia, bahagia.

Setelah kumandang yang melambung ke seluruh ruangan, adegan selanjutnya adalah kisah mereka menjalani harinya, di mana saya membayangkan itu perjalanan menuju ujung dunia. Yakni masa depan impian setiap insan yang harus membayar mahal untuk sampai kepadanya.

Tetapi, dari cerita mereka, perjalanan itu tidak mudah. Rintangan menuju ujung dunia datang dari banyak arah dan berbagai macam rupa-rupanya: Biaya kuliah mahal, sementara diri sudah terlanjur ada dan harus hidup, teman-teman yang kadang menganggap mereka aneh, soal pacar, rindu rumah, dan sebagainya. Dan semua masalah itu berkelit satu sama lain, menjauhkan mereka dari ujung dunia. Di satu titik akhirnya mereka lelah, dan membutuhkan agama. Namun, kata perempuan yang berperan sebagai dosen, yang mereka butuhkan adalah soft skill, bukan agama.

Adegan-adegan terus berlanjut. Ada pembacaan draf pesan singkat yang membuat penonton tergelak, biduan yang bernyanyi, dan seterusnya. Dari rangkaian adegan-adegan itu, muncul titik terang bahwa kupu-kupu atau kuliah pulang–kuliah pulang merupakan hasil dari sekumpulan keinginan untuk mengatasi masalah yang membuat lelah dan keinginan cepat sampai ke ujung dunia. Karena hanya di ujung dunia tempat cermin tipu daya. Ujung dunia ini sebutlah “lulus kuliah” dan cermin tipu daya adalah kesuksesan atau impian indah yang hanya mungkin didapat setelah lulus kuliah.

Kemudian tibalah akhir pertunjukan. Kupu-Kupu seperti mengulang dirinya sendiri. Enam mahasiswa tersebut kembali duduk di lantai dan menghadap laptop yang terbuat dari kursi lipat. Perempuan berkacamata dan terikat rambutnya itu berjalan di antara mereka, dan berkata: “Selain IPK yang baik, kalian harus memiliki soft skill untuk menunjang kemampuan kalian. Soft skill yang kalian miliki itu akan berguna bagi kehidupan kerja kalian kelak…,”

 

Dapur Kupu-Kupu

Sampai pertunjukan usai dan penonton bubar, saya bertanya di manakah Kapai-Kapai? Dari sekian dialog aktor saya mendengar beberapa saja yang dari naskah Kapai-Kapai. Oleh sebab itulah saya menemui Suluh Senja, sutradara pertunjukan Kupu-Kupu untuk menuntaskan rasa penasaran saya, mengapa menjadi seperti itu Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer.

Suluh bercerita, dalam rangka pentas akhir tahun Teater Gajah Mada (TGM), ia dan teman-temannya, ingin menceritakan hal-hal terdekat dari mereka sebagai mahasiswa. Seperti persoalan mahasiswa yang setelah kuliah langsung pulang ke kosan atau rumahnya. Sebelumnya, kata Suluh, TGM sudah mencobanya dalam pertunjukan Tidak Ada Cinta d(ar)i Kampus Biru (2016), hasil tafsir ulang dari novel Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar.

Di tengah kegelisahan itu, Eko, ketua TGM periode 2017 yang berperan sebagai perempuan berkacamata di pertunjukan ini, sedang membaca naskah Kapai-Kapai, menyodorkan karya Arifin tersebut. Melalui Kapai-Kapai, mereka ingin menceritakan persoalan kekinian mahasiswa. Namun, setelah kurang lebih dua bulan latihan, Suluh dan teman-temannya merasa ada jarak dari Kapai-Kapai dengan persoalan mahasiswa masa kini. Di situlah mereka memutuskan melupakan Kapai-Kapai dan kembali ke niat awal: menceritakan hal-hal terdekat dari mereka sebagai mahasiswa, persoalan mahasiswa yang setelah kuliah langsung pulang ke kosan atau rumahnya.

Lalu mereka melakukan riset sederhana selama satu minggu. Panduan pertanyaan untuk riset disusun dengan berpijak pada Kapai-Kapai. Dari Kapai-Kapai mereka menemukan tokoh Abu sebagai stereotip mahasiswa kupu-kupu, dan persoalan ekonomi, pasangan, impian, yang mendera Abu, dikembangkan jadi pertanyaan yang diajukan kepada narasumber. Narasumber mereka ialah mahasiswa yang kupu-kupu.

Dari lima belas narasumber yang diwawancarai, ketika Suluh menyalinnya ke dalam naskah, memerasnya menjadi tujuh aktor, di mana satu aktor sesekali bertukar peran jadi mahasiswa dan dosen. Dengan demikian dialog-dialog di panggung semuanya hasil riset. Hanya 5% dari naskah Kapai-Kapai yang dipakai jadi dialog. Hingga pilihan kostum dan musik pun menggunakan hasil temuan riset.

Suluh kemudian menegaskan, Kupu-Kupu tidak akan lahir jika ia dan teman-temannya tidak bergumul dengan Kapai-Kapai. Dan landasan mengapa perubahan Kapai-Kapai menjadi sedemikian lebur, kalau bukan malah lesap, Suluh mengatakan: “Arifin C. Noer selalu mengaktualisasi zamannya. Jadi ketika membaca atau membawakan naskah Arifin, kami perlu mengaktualisasi zaman kami sendiri.”


Kata Penonton

Beberapa penonton terkejut menyaksikan Kapai-Kapai berubah menjadi Kupu-Kupu. Yang sudah menonton atau membaca naskahnya, tentu, akan kaget. Barangkali penonton masih dibingkai oleh Kapai-kapai Arifin C. Noer. Setidaknya itu yang saya dapatkan dari beberapa komentar penonton. Namun, banyak respon bagus atas topik yang dibicarakan Kupu-Kupu. Ilham, mahasiswa Filsafat UGM, mengatakan ceritanya lumayan. Siti Aminah, mahasiswa Biologi UIN Sunan Kalijaga, yang belum membaca atau menonton Kapai-Kapai juga mengatakan hal yang sama. [Habib]

_____

Judul pertunjukan: Kupu-Kupu (Transformasi Kapai-Kapai Karya Arifin C. Noer) // Karya: Teater Gajah Mada (TGM)  // Sutradara: Suluh Senja // Tanggal Pertunjukan: Malam Pertama, 07 Desember 2017 // Tempat: Hall TGM, Gelanggang Mahasiswa Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

*sumber foto dari dokumentasi Teater Gadjah Mada (TGM)

Submit a Comment

X