SIDEBAR

Monodrama; Wanita Tua Kesepian

0 comments
Jan 18 2018
Post's featued image.

Kesendirian dipeluknya bukan tanpa alasan, ia memegang teguh prinsipnya, bahwa lelaki yang dahulu dicampakkannya adalah suami satu-satunya dan selamanya, walaupun lelaki itu tak pernah kembali. Sejujurnya Ia sangat mencintai lelaki itu tapi ia malu untuk mengakui rasa cintanya.

15 Desember 2017, Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta sedang ramai. Dari pria, wanita, muda, hingga tua. Semuanya saling bercengkrama seraya menunggu mulainya parade monolog drama. Perbincangan yang berlangsung dari sesama penggiat teater cukup hangat, merambat dari berbagi pengalaman berteater dan bercerita pementasan-pementasan yang akan maupun sedang dalam proses pengggarapan.

Sekitar pukul 20.00, acara dibuka oleh presenter yang memperkenalkan kegiatan-kegiatan dalam Festival Monodrama Nusantara. Festival Monodrama Nusantara (FMN) 2017 merupakan festival perdana yang diadakan oleh WhaniDproject. Digelar dengan semangat diplomasi budaya, yang memiliki tujuan untuk mempersatukan hubungan antar manusia dari berbagai bangsa dalam media seni peran tunggal (monodrama). Festival ini menghadirkan aktor dari tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sesuai dengan namanya yang mengangkat kata Nusantara, menurut sejarawan Denis Lombard ada lima puluh titik yang termasuk Nusantara: Indonesia, Malaysia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Timor Leste, Laos, dan Filipina— harapan WhaniDproject FMN selanjutnya tidak hanya mampu menghadirkan aktor dari Nusantara saja, tapi lebih luas dari itu.

FMN digelar pada tanggal 15 dan 16 Desember 2017. Tanggal 15 Desember, diadakan workshop penulisan lakon monolog bersama Whani Darmawan (Indonesia) dan Rafaat Haji Hamzah (Singapura) di Omahkebon Nitiprayan Guest House dan parade monolog drama yang menampilkan Uul Syarifah Lail (Indonesia), Danial Lee (Malaysia), dan Dalifah Shahril (Singapura) di kampus Pascasarjana ISI Yogyakarta. Di Tanggal 16 Desember diadakan workshop keaktoran bersama Yusof Bakar (Malaysia) dan Dalifah Shahril (Singapura) di Omahkebon Nitiprayan Guest House, peluncuran buku kumpulan monolog “Sampai Depan Pintu” karya Whani Darmawan bersama Dede Paramayoza, Ikun Sri Kuncoro, dan Eko Balung di Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan parade monolog nusantara yang menampilkan Roslan Daud (Singapura), Irna NJ (Indonesia), dan ARD Omar (Malaysia).

Pementasan monodrama dimulai oleh Syarifah Lail Al Qadhariani S.Sn (Indonesia) yang membawakan monolog Kenang-Kenangan Wanita Pemalu karya WS Rendra, disutradarai oleh Iswadi Pratama. Tata panggung terkesan sederhana dengan satu ranjang, meja, lemari, dan kursi yang terlihat usang. Sesuai dengan karakter yang dibawakan yaitu seorang wanita tua yang memeluk kesendirian dan membiarkan waktu perlahan menggerogoti usianya. Kesendirian dipeluknya bukan tanpa alasan, ia memegang teguh prinsipnya, bahwa lelaki yang dahulu dicampakkannya adalah suami satu-satunya dan selamanya, walaupun lelaki itu tak pernah kembali. Sejujurnya Ia sangat mencintai lelaki itu tapi ia malu untuk mengakui rasa cintanya.

Kemudian wanita itu menceritakan sosok lelaki yang dipujanya, dengan suara dan bahasa yang sudah tak lugas lagi, ia masih tampak semangat menceritakan Karnaen, kadang diselingi tawa ketika menceritakan kisah yang dianggapnya lucu walaupun seraya terbatuk-batuk. Karnaen sosok luar biasa, cara berjalannya sangat mengesankan. Rambutnya sangat hitam, berombak, panjang, sebahu, alisnya tebal, tidak begitu tinggi, tidak pula rendah. Karnaen selalu tersenyum pada siapapun dan pandai mengumbar humor. Begitulah wanita itu terlihat bersemangat mendeskripikan sosok Karnaen.

Melihat sosok wanita tua ringkih menceritakan masa lalunya dan penderitaan atas penyesalannya, saya merasa bukan sedang menyaksikan pementasan monolog, melainkan benar-benar sedang diceritakan kisah yang nyata. Aktris yang menyelesaikan studi S1 nya di jurusan Teater ISI ini memang pandai memerankan sosok wanita tua. Tubuhnya mampu mewakili keringkihan, suaranya parau, dan logat bicaranya pun berkarakter. Di samping itu, aktris yang sapaan akrabnya Uul ini memiliki imajinasi yang kuat, sehingga cerita yang ia bangun tampak seperti benar-benar terjadi. []

_____

Pewarta: Siti Aminah

Acara: Festival Monodrama Nusantara // Tanggal: 15 dan 16 Desember 2017 // Tempat: Omahkebon Nitiprayan Guest House dan Pascasarjana ISI Yogyakarta  // Sumber foto: Abd Ghafur (Teater Eska)

 

Submit a Comment

X