SIDEBAR

Moralitas Gaspar

0 comments
Nov 26 2017
Post's featued image.

Semua orang terlahir untuk menjadi keparat dan siapa pun yang berkata sebaliknya pastilah delusional atau, kalau tidak, ya pendusta kelas berat.”

 

“Moralitas Gaspar.” Judul besar resensi buku 24 Jam Bersama Gaspar yang ditulis oleh Habiburachman, anggota aktif Teater Eska, tercetak tebal besar di halaman 24 koran Kompas edisi Sabtu, 2 September 2017. Buku karya penulis pemenang unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2016, Sabda Armandino ini menceritakan mengenai tiga laki-laki, tiga perempuan dan satu motor yang berencana merampok sebuah toko emas. Sebagaimana resensi lain tentang buku ini, yang paling diandalkan menjadi bahasan utama adalah mengenai jenis moralitas yang dibangun, yaitu berangkat dari tokoh antagonis. Namun, dalam resensinya, Habib mengatakan bahwa buku Gaspar ini memasalahkan tabiat buruk manusia –yang secara psikoanalisa merupakan perkara naluriah—dibingkai dengan dalih pembenaran untuk memenuhi syarat moralitas yang berlaku di masyarakat dan legitimasi kuasa.

Moralitas terbangun hanya oleh dua pondasi saja, yaitu baik dan buruk. Terlebih baik-buruk tertahan dalam definisi hitam putih. Berangkat dari hal ini, Habib menuliskan dalam resensinya bahwa Gaspar mampu menguatkan pendapat tentang fiksi yang baik adalah yang memproduksi moralnya sendiri di luar moralitas hegemonik. Dalam fiksi yang berdiri di luar moralitas hegemoni, Habib mengatakan bahwa Gaspar mendekonstruksi beberapa hal, yaitu: sebagai sebuah cerita, Gaspar tidak membongkar kejahatan sebagaimana keumuman, tapi Gaspar lah kejahatan sendiri. Kedua, Gaspar memperolok cerita detektif yang biasa memproduksi moral hegemonik, membongkar kejahatan. Ketiga, cerita detektif bisa pula hanya dengan membongkar rahasia alih-alih membongkar pelaku, dan yang ke-empat moralitas Gaspar membuat kita bertanya mengenai apa itu baik dan buruk, perlukah baik dan buruk.

Resensi Gaspar oleh Habib ini juga membahas mengenai alur cerita yang memiliki dua dan saling beririsan. Alur yang selang-seling membangun ketegangan sampai akhir. Berbeda dengan resensi atau review yang diangkat mengenai Gaspar, resensi yang ditulis oleh Habib ini mengambil sudut pandang yang berbeda, yaitu dari segi fiksi, tentang bagaimana buku Gaspar mampu menguatkan tentang fiksi yang baik berupa fiksi kejahatan.

Cerita-cerita fiksi mampu menggugah kesadaran pembacanya melalui ide-ide yang dibangun, ditambah kesadaran ini bisa berwujud sebuah tindak jika pembacaan mengenai fiksi tersebut mampu dianalisa secara tepat dan tajam.[]

_____

Peresensi: Siti Aminah

Judul: Moralitas Gaspar // Penulis: Rachman Habib // Penerbit: Kompas (Koran Cetak) // Rubrik: Akhir Pekan | Buku, hlm. 24 // Terbit: Sabtu, 2 September 2017

Submit a Comment

X