SIDEBAR

Ngobrolin Mitos dan Modernitas bersama Kriss Budiman

0 comments
Dec 12 2017
Post's featued image.

Dan sekarang ini, kita juga ditakutkan oleh mitos tentang kesuksesan di masa depan, kita pun diharuskan sekolah, menabung, dan bekerja, biar sukses. Ini semua mitos modernitas.”

Sabtu malam, 02 Desember 2017, kafe “The Point Coffee & Drama” yang terletak di Jl. Demangan Baru, Depok, Sleman, Yogyakarta, disulap oleh Teater Tangga menjadi ruangan Talk Show. Dalam kesempatan tersebut, komunitas yang berasal dari UMY itu mengangkat tema “Mitos dan Modernitas”. Menurut penyelenggara, acara ini diselenggarakan untuk mendukung pentas produksi yang direncanakan setengah bulan lagi, dengan tema yang sama.

Setelah acara dimulai dengan pembacaan puisi, moderator mulai berbicara dan memberi pertanyaan. Sambil merokok dan menikmati kopi, para pengunjung khidmat mendengarkan penjelasan Dr. Kris Budiman yang memulai pembicaraan tentang mitos dikaitkan dengan sejarah.

Secara etimologi, mitos berasal dari bahasa Yunani yang berarti dongeng, fabel, dan kisah-kisah yang di dalamnya terdapat takhayul. Mitos lahir sebagai jawaban atas kecemasan atau ketakjuban manusia melihat fenomena alam yang asing, kontradiktif, mengagumkan dan menakutkan. Di Yunani, misalnya, karena kecemasan masyarakat melihat api yang kontradiktif—satu sisi berbahaya di sisi lain sangat dibutuhkan— lahirlah mitos Dewa Matahari. Ia dipersonifikasi, disembah untuk dijinakkan.

Itu juga berkait dengan kodrat manusia yang selalu berkisah. Manusia selalu mencipta kisah dan produk imajinasi yang dapat dipercaya kebenarannya demi menjawab pengalaman-pengalamannya. Karena hal itu, di masyarakat tertentu lahirlah mitos tentang naga, tentang kuda bertanduk yang dikenal dengan unicorn.

Sejarah, sebagai produk modern yang di dalamnya juga menyimpan kisah-kisah, menolak hal-hal yang sifatnya takhayul, dan tidak berdasar pada sistem pengetahuan saintifik seperti contoh-contoh di atas. Dengan demikian, mitos, meskipun di dalamnya juga mengandung sejarah, adalah sesuatu yang dijauhi oleh modernitas. Kris Budiman menegaskan, memang ilmu-ilmu modern lahir karena pertanyaan terhadap mitos. Namun sesungguhnya ilmu modern tidak berakar padanya, tapi sebagai anti-tesis terhadapnya.

Meskipun demikian, bahwa meodernitas melawan mitos, “modernitas sebenarnya membangun mitosnya sendiri; bahwa modern membawa pembaruan, progresi, rasional, dst. Padahal ya, kalau mau dilihat-dilihat lagi, tidak ada yang baru di dunia ini. Apa yang dianggap baru itu sebenarnya daur ulang apa yang dulu-dulu. Bisa dibilang, kita hanya meng-install ulang, biar keliatan baru.” Kata Kris menjelaskan “Dan sekarang ini, kita juga ditakutkan oleh mitos tentang kesuksesan di masa depan, kita pun diharuskan sekolah, menabung, dan bekerja, biar sukses. Ini semua mitos modernitas.”

“Lalu, di era yang modern ini, bagaimana kita menyikapi mitos?” tanya moderator di tengah talk show.

Karena saat ini,  di tengah modernitas masih hidup mitos, maka masyarakat harus bisa berkompromi. Mitos harus dilihat dengan kacamata etika setempat atau dengan kacamata kebergunaannya. “Setiap produk kebudayaan yang tidak ada gunanya sebaiknya dibuang saja. Kita bisa ambil contoh mitos-mitos yang takhayul.” terang kritikus dan antropolog itu “atau di masa sekarang ini, kita juga mengenal mitos yang sudah menjadi local wisdom. Bisa juga kita menilai mitos itu dengan kaca mata local wisdom.” [Abdul Ghofur]

Submit a Comment

X