SIDEBAR

Orang Madak dan Kisah Yang Terus Berulang

0 comments
Sep 14 2018

 

Menghadapi cerita itu, penonton merasa pertunjukan cukup ringan penyajiannya. “Sebagai penonton yang sederhana, pertunjukan tersebut renyah untuk dikunyah dan dibawa pulang,” begitulah tutur salah satu penonton saat diskusi sarasehan berlangsung.

 

Kisah Orang Madak atau petani garam yang direkam oleh teman-teman Teater Satoesh IAIN Kudus dalam pentas Produksinya di gedung Auditorium Kampus Universitas Muria Kudus pada 05 September 2019, mengajak penonton untuk melihat kembali realita para pekerja tambak garam di daerah pesisir pantai utara yang kehilangan lahan kerja.

Naskah Madak yang ditulis oleh Rouf Kuro memotret isu-isu seputar harga garam yang mahal, keputusan Negara yang memasok garam dari luar negeri, dan para pemilik lahan yang mengalihfungsikan tambak garam menjadi tambak windu.

Kisah Madak bermula dari tiga awak buruh serabutan yang merindukan panen garam. Mereka tidak lagi madak dan tambak-tambak garam tidak ada lagi. Semua berubah, pemilik tambak melirik  panen windu yang lebih menjanjikan secara materi. Lalu seorang mahasiswa yang berpihak pada mereka tidak dapat melawan keputusan pemilik lahan yang adalah bapaknya sendiri. Artinya di sini, pemilik lahan yang berkuasa memihak pada pemodal.

Alur seperti ini dapat mudah ditebak oleh penonton. Namun begitulah kenyataannya cerita orang madak. Rouf menyatakan, “Seperti itulah kisah orang madak di sekeliling kampung saya.”

Penonton dapat menyaksikan Orang Madak sebagai kisah ironis yang terus berulang. Maksudnya, para pekerja membutuhkan kerja, tapi pemilik lahan tidak dipihak mereka, dan selalu begitu. Akibatnya, para petani garam itu belum punya lahan buat digarap. Dan sosok seperti mahasiswa, anak dari pemilik lahan, hanya menjadi sosok main-mainan, yang harus pegang idealitasnya harus kalah dengan kebijakan sang bapak.

Menghadapi cerita itu, penonton merasa pertunjukan cukup ringan penyajiannya. “Sebagai penonton yang sederhana, pertunjukan tersebut renyah untuk dikunyah dan dibawa pulang,” begitulah tutur salah satu penonton saat diskusi sarasehan berlangsung.

Artinya cerita yang dikisahkan melalui media panggung akan terus menemukan penontonnya. Seperti teks cerita yang disajikan dalam lipatan buku akan menemukan pembacanya. Meskipun di tahap selanjutnya, penutur cerita tidak akan pernah dapat “mendikte” penonton untuk melihat dari sudut yang sama.

Seperti penonton yang datang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta terkendala dengan bahasa jawa. Meskipun memang para penonton yang berdomisili di Kudus akan lebih nikmat dengan dialek jawa. Sutradara menjelaskan, “Saya dilema saat memilih dialog-dialog tokoh, tapi akhirnya saya banyak memilih bahasa jawa karena lebih marem.” (Baca: senang).

Beberapa penonton yang lain datang dari IAIN Salatiga, meminta penjelasan apa yang dapat dilakukan setelah melihat dan menelaah kasus para madak tersebut. Sutradara menghela nafas dan dengan tegas berkata “Usai kuliah saya tuntas, saya akan madak lagi.” Penonton pun tersenyum dan penanya meminta bukan hanya Sutradara yang melakukan gerakan.

Dalam diskusi sarasehan selanjutnya, tak terlewatkan pembahasan pemilihan panggung, dan keseimbangan aktor dalam setiap sudut panggung, gestur tubuh, respon tubuh saat perubahan waktu, dan kritik atas waktu dalam cerita yang tidak ada perubahan secara visual panggung.

Meskipun pertanyaan–pertanyaan terakhir saat saresahan tidak mendapat banyak tanggapan, hingga hanya menjadi kritik-saran terhadap tim penggarap. Bahkan sampai di ujung diskusi, aspek penting yang tidak sama sekali tersentuh saat sarasehan ialah keproduksian. Padahal Teater Satoesh IAIN Kudus mampu bekerja sama dengan Djarum Fondation dalam pentas Produksinya tahun ini.[]

 

_____

Pewarta: HR Nawawi

Judul pertunjukan: Orang Madak // Karya: Rouf Kuro // Sutradara: Rouf Kuro // Tanggal Pertunjukan : Rabu, 05 September 2018 // Tempat: Auditorium Universitas Muria Kudus.

Submit a Comment

X