SIDEBAR

Rotasi Kedai Kopi Terhadap Pemenuhan Hasrat Konsumen

0 comments
Sep 18 2018
Post's featued image.

 

Lantas logika bisnis seperti apakah yang harus digunakan pemilik Kedai Kopi untuk memenuhi pelanggan seperti mereka?

 

Taruhlah para mahasiswa-mahasiswi UIN Yogya yang setiap hari memenuhi kedai-kedai kopi di Sorowajan Baru, yang berbondong-bondong atau satu per satu menuju kedai, lalu membuat firqoh, atau menepi sendiri, dan bahkan hanya sekedar merebahkan kepala dan tertidur berbantal tas yang dibawanya adalah pelanggan Kedai Kopi yang paling lumrah di Yogya.

Konsumer seperti mereka setidaknya memiliki tujuan (1) melepas penat, (2) mengisi jam kosong kuliah, (3) menerima tamu luar kota (4) menyelesaikan tugas, tentu perihal WiFi, (5) kopdar antar komunitas game, ideologi, kesenian, atau memang (6) disitulah mereka tidur saat malam hari. Lantas logika bisnis seperti apakah yang harus digunakan pemilik Kedai Kopi untuk memenuhi pelanggan seperti mereka?

Lain ladang lain belalang, lain kedai kopi lain pula orang-orangnya. Sebagaimana tulisan Mas Edeng Syamsul Ma’arif yang bertajuk Kedai Kopi, Klaim Tempat Diskusi, dan Realitas Pos Kamling dalam kolom Pojok Sastra Cirebon 15 September 2018 yang mencoba mengulas tentang sikap pemilik kedai kopi terhadap konsumen di kota Cirebon. Ia Menanggapi fenomena pemilik kedai kopi yang ‘mengklaim’ dirinya sebagai tempat diskusi gagasan, ideologi, yang padahal di tempat lain juga bisa dilakukan, pendek kata menurut penulis, ‘Pos Kamling’ juga bisa digunakan sebagai tempat diskusi.

Ia juga menjelaskan bagaimana menjamurnya kedai kopi di kota Cirebon, dan menyebutkan secara singkat perihal budaya ‘ngopi’ yang sudah ada sejak 136 tahun lalu di Jakarta hingga berkembang sampai sekarang. Sebut saja pasca Filosofi Kopi dan bayang-bayang barista tokoh Ben dan Joni, hingga gelombang pecinta kopi yang ikut trend atau para muda-mudi yang mencari kedai-kedai instagramable untuk memenuhi ’hasrat’.

Gelombang ini kemudian dibaca oleh para pembisnis lokal. Meskipun awal-awal logika bisnis mereka masih ditaraf ego kapital. Namun tidak mustahil kiranya, harapan-harapan jangka panjang dalam tulisan Kedai Kopi dan Penguatan Nalar Konsumen atau setidaknya pemberian tawaran dari Mas Edeng kepada setiap kedai kopi di Cirebon untuk mulai memperdulikan nalar-nalar konsumen agar tidak melulu konsumtif.

Artinya Edeng Syamsul Ma’arif, pemilik komunitas Sastra Lingkaran Jenar, ingin meluruskan, atau mengingatkan dengan baik tentang bagaimana kedai kopi yang juga sebagai ladang bisnis juga bisa memfasilitasi konsumen dalam hal (1) penguatan nalar, sekaligus (2) kreativitas. Jadi, para pemilik kedai kopi harusnya tidak hanya berteriak-teriak bahwa kedai kopi-nya dapat memberikan dampak serupa inspirasi, imajinasi, dan ide yang sebenarnya dapat kita temukan juga di atas kakus.

Lalu seberapa wajib, katakanlah begitu, pemilik kedai kopi memberikan kepuasan terhadap konsumen di luar transaksi jual-beli? Sedangakan kepuasan pembeli sangat penting bagi pemelik kedai, karena detak jantung bisnis kedai kopi adalah pembeli. Termasuk mengenai hasrat ‘pengetahuan’.

Dan berotasilah salah satu kedai kopi baru-baru ini di area Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul yang dipenuhi dengan konsumen mahasiswa-mahasiswi yang memiliki hasrat pengetahun. Walaupun tidak bisa dipukul rata hasrat pengetahuan antar mahasiswa memiliki kesamaan. Namun hasrat itu ditanggapi dengan baik oleh salah satu pemilik kafe yang setiap bulannya mempunyai agenda diskusi dengan penulis-penulis bertaraf nasional. Dan di sudut kafe tersebut, terdapat perpustakaan yang dapat diakses oleh siapa saja. Dari hal-hal tersebut banjirlah pengunjung, menjamurlah para pembeli yang menyukai literasi untuk sekedar singgah, dikusi dan bahkan menjadi konsumen tetap.

Sedangkan kedai-kedai lain yang tidak mempunyai acara diskusi besar seperti kafe tersebut, tetap tidak menutup kemungkinan adanya lingkaran, firqoh, yang berisi 5 sampai 10 orang  untuk melakukan diskusi, pembacaan-pembacaan situasi politik, kebudayaan, atau sekedar mencari materi-materi ringan yang sedang viral.

Bedanya pemiliki kedai kopi di area Sorowajan, setahu saya, tidak mengklaim bisnisnya sebagai tempat satu-satunya gagasan, ide, dan gerakan tercipta, melainkan lebih memenuhi kebutuhan konsumen yang sering hilir-mudik ke kedai kopi dengan tujuan dan alasan lain, seperti yang saya sebutkan diawal paragraf daripada mengakui kedainya sebagai wadah diskusi seperti ulasan Mas Edeng, mungkin itu hanya “starategi dagang atau kamuflase.”[]

_____

Presensi: HR Nawawi

Judul: Kedai Kopi, Klaim Tempat Diskusi, dan Realitas Pos Kamling // Penulis: Edeng Syamsul Ma’arif // Penerbit: Radar Cirebon (Koran Cetak) // Terbit: Sabtu, 15 September 2018

Submit a Comment

X