SIDEBAR

Syair Jahiliah Sebagai Bukti Eksistensi Sastra Arab Klasik

0 comments
Nov 18 2017
Post's featued image.

:Wahai malam yang tak bertepi!

Kenapa tak juga pergi

Meski pagi telah mengusirmu berulangkali”

~Manusia dan Serigala, Umru Ul-Qois

 

 

Apakah Anda menganggap zaman jahiliah adalah masa di mana orang-orang di dalamnya diklaim bodoh? Tentunya, banyak sekali yang beranggapan zaman jahiliah di sini adalah zaman di mana semua orang di dalamnya dibaluti kebodohan; walaupun jika ditilik dari makna Jahala-Yujhilu itu sendiri memang benar berarti bodoh. Tetapi perlu diluruskan lagi penamaan jahiliah ini karena didalamnya penuh dengan kemarahan, dendam, dan jika kita ulik perilaku-perilaku kabilah Arab saat itu mencerminkan bahwa mereka kurang mampu mengolah akal pikirannya. Selain itu orang-orang jahiliah ini tidak mempunyai daya cipta dan hasrat yang tinggi untuk menompang peradabannya dalam titisan sejarah. Tetapi pada masa inilah kita mengetahui awal permulaan genre sastra Arab klasik, hingga lahirlah sebuah jargon “Asy-Syi’ru Diwanul Arab” yang berarti puisi adalah rumah bagi bangsa Arab.

Tentunya ini adalah salah satu bukti orisinil hasil cipta rasa orang-orang jahiliah yang terekam sejarah. Perlulah kita mengenal perkembangan sastra Arab terlebih dahulu sebelum beranjak mengelucuti beberapa syair yang masih kental diminati pembaca. Pada saat itu, Makkah merupakan wilayah yang menjadi pusat perkembangan zaman Jahiliah. Uniknya, pertumbuhan sastra pada masa ini banyak berkiprah di pasar-pasar, tepatnya di pasar Ukaz. Para penyair dengan bebas menyampaikan syair mereka, dan perlu digarisbawahi ada yang beranggapan ketika penyair itu sering melantunkan syair-syairnya di pasar Ukaz maka ia akan menjadi terkenal; karena pasar ini merupakan tempat berlomba para penyair dalam memodifikasi syairnya dan kemudian memamerkannya pada khalayak. Selain pasar yang menjadi tempat berlomba-cipta puisi, ada faktor lain yang mempengaruhi perkembangan sastra Arab yaitu Ayyamul Arab yang menjadi bagian dari fenomena sosial pada masa Jahiliah sebelum kedatangan Islam.

Eksistensi sastra Arab Jahili telah menjadi bukti sejarah yang memberikan pengetahuan akan gambaran dari kondisi masyarakat saat itu. Rincian-rincian syair itu berasal dari tabiat, kegiatan, romantika, politik, peperangan bahkan dapat pula menyangkut perihal ekonomi saat itu; dan dijadikan pula sebagai bentuk penghargaan tertinggi terhadap kebudayaannya yang berasal dari seni ini.

Syair-syair jahili di buku ini merupakan salah satu dari syair-syair Arab klasik yang mendapatkan penghargaan melalui peristiwa sastra bangsa jahiliah yang secara luas dikenal oleh masyarakat sastra dunia sebagai Al-Muallaqat yaitu Nobel Sastra yang dianugerahkan kepada penyair yang telah diuji dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh dewan juri. Al-Muallaqat adalah istilah untuk puisi yang digantungkan, perlu kalian ketahui bahwa Al-Muallaqat ini sering disebut sebagai Al-Muallaqat As-Sab’u yang berarti kumpulan puisi tujuh penyair yang digantungkan.

Berikut ini adalah nama-nama penyair Al-Muallaqat As-Sab’u yang puisinya diterjemahkan oleh Bachrum Bunyamin dan Hamdy Salad:  Umru Ul-Qais sebagai penyair utama kebudayaan jahiliah, Tarafah bin Abid, Harits bin Khillizah, Amru bin Kultsum, Zuhair bin Abi Sulma, Antarah bin Syaddad serta Labid bin Rabiah.

Selebihnya, begitulah perkembangan syair-syair jahiliah yang tidak kalah eksis di kalangan orang pecinta sastra Arab, walaupun di dalam sejarahnya Al-Muallaqat ini menimbulkan berbagai kontroversi di kalangan peneliti.[]

___

Peresensi: Anna Zakiah Derajat

Judul: Syair-Syair Arab Pra-Islam Al-Muallaqat // Penulis: Umru Ul-Qais, dkk. // Penerjemah: Bahcrum Bunyamin dan Hamdy Salad // Penerbit: Ganding Pustaka // Cetakan: I, 2017 // Tebal: xxviii + 84 halaman, 14 x 20 cm

Submit a Comment

X