SIDEBAR

Telembuk, Pembacaan Realitas yang Dilupakan

0 comments
Dec 22 2017

Hampir semua teman-teman desa saya badung, beberapa ada yang sudah masuk penjara,”  terangnya.

Terhadap pekerja seksual, masyarakat terbiasa menyumpah-serapah. Menganggap bahwa itu pekerjaan yang hina dan jauh dari Tuhan. Pekerja seksual kemudian dikucilkan dari masyarakatnya. Terhadap para pekerja seksual, masyarakat menempatkan diri pada posisi yang jauh lebih suci di atasnya, tanpa ingin memahami alasan apa menjadi pekerja seksual.

Bertolak-belakang dari stigma masyarakat, novel Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat sama sekali tidak menghakimi pekerja seksual, atau telembuk—panggilan pekerja seksual khas Indramayu. Novel tersebut justru mengupas perjalanan hidup seorang telembuk, mengapa ia sampai memilih menjadi telembuk.

Bertempat di Aula Student Centre Lantai 3 Universitas Negeri Yogyakarta tanggal 07 Desember, Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Indramayu (KAPMI) mengadakan peluncuran dan diskusi buku Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat karya Kedung Darma Romansha. Acara ini mengundang kritikus sastra Katrin Bandel.

Acara dibuka dengan menyuguhkan kesenian khas Indramayu, yaitu Gitar dan Seruling (Tarling). Musik Tarling dimainkan dengan diiringi penyanyi yang membawakan lirik-lirik berbahasa Sunda Indramayu. Lewat penampilan Tarling ini, peserta yang hadir digiring untuk ikut menghayati dan menerka-nerka kota Indramayu. Seusai Tarling, acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, sebagai wujud  syukur atas terbitnya novel Telembuk.

Acara peluncuran dan diskusi diikuti dengan cukup khidmat. Katrin Bandel, ketika mengomentari novel Telembuk, mengatakan bahwa lanskap pedesaan di dalam Telembuk sangat menarik. Karena kejadian-kejadian yang diangkat adalah kejadian sehari-hari. Sehingga peristiwa di dalam novel ini terasa dekat dengan pembaca.

Latar desa yang disajikan sangat menarik,” ungkap Katrin, “lokal, tetapi terasa global kapital.”

Selain itu, Katrin juga berpendapat bahwa novel Telembuk mengangkat cerita yang kental dengan spiritualitas dan ritual keagamaan. Ini disebabkan dari latar belakang pendidikan Kedung di pesantren.

Hal ini kemudian diamini Kedung. Ia menulis Telembuk berdasar pengalaman yang cukup dramatis. Ia terlahir dari keluarga nyantren, sehingga pengalaman menjadi santri pun harus ia kenyam atas dasar kebiasaan turun-temurun. Tetapi, kehidupannya sebagai santri tidak serta merta menghalanginya memiliki teman-teman yang nyeleneh. Ia bergaul cukup baik. Dan sempat mengikuti tawuran antar desa. Walaupun, pada kenyataannya ia takut tak kepalang. Hampir semua teman-teman desa saya badung, beberapa ada yang sudah masuk penjara,terangnya.

Dari teman-teman yang nyeleneh itu, Kedung menemukan telembuk yang tak lain adalah temannya sendiri. Ia mewawancarainya dengan cantik, seolah-olah telembuk itu tak tahu ia sedang diwawancarai. Dari pengalaman-pengalaman itulah, Kedung menyusun Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, novel yang dekat dengan pembacanya dan membicarakan realitas yang kerap kali masyarakat acuhkan.[]

 

_____

Pewarta: Siti Aminah

Acara: Peluncuran dan Diskusi Buku Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta Yang Keparat // Karya: Kedung Darma Romansha // Tanggal Acara: kamis 19.00, 07 Desember 2017 // Tempat: Aula Student Center Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Submit a Comment

X